25.2 C
Jakarta

Hotel Great Barrier Reef kini jadi rumah hantu

Must read

Dibanderol Rp30 miliar per unit, rumah mewah di NavaPark BSD laris terjual

SIAPA bilang rumah seharga puluhan miliar hanya bisa dipasarkan di kawasan elit Jakarta seperti Pondok Indah, Menteng atau Kemang? Nyatanya, rumah seharga...

Lover’s Deep tawarkan liburan mewah di laut Karibia

Andaikan anda orang terkaya di dunia seperti Waren Buffet, Bill Gates atau Jack Ma, maukah membelanjakan uang sebesar Rp 4 miliar hanya...

Mengintip mall terbesar, termegah dan teramai di dunia

Air terjun ilusi di Dubai Mall. sumber foto: citytourindubai.com

Judi dan hotel Empathy Suite yang mewah artistik

Archie Karas adalah pemain judi paling top  dalam sejarah perjudian dunia dan menjadi salah satu cerita judi yang paling menakjubkan di muka...

Pernahkah anda terpikir ada seorang miliarder membangun sebuah hotel apung mewah menghabiskan dana sedikitnya Rp 400 miliar, lantas kini dibiarkan teronggok menjadi kapal hantu? Boleh jadi Anda berpikir pasti ini sebuah kisah absurd dalam novel. Tapi ini nyata, bukan fiktif.  Adalah Great Barrier Reef Floating Resort, hotel  resor bintang lima di Australia. Hotel yang dibangun dan diresmikan sekitar tahun 1988 ini, awalnya didirikan untuk menunjukkan kepada wisatawan keindahan Great Barrier Reef, namun faktanya 38 tahun sejak diresmikan, kini teronggok tak berfungsi lagi di zona demiliterisasi Korea.

Bertempat di kota pelabuhan kecil sebelah timur pesisir Korea Utara, kini “bangkai” kapal raksasa yang semula bernama Great Barrier Reef Floating Resort itu berada – – terlantar tak terurus. Lokasi hotel apung ini kini hanya 17 kilometer dari zona demiliterisasi di perbatasan Korea Selatan-Korea Utara.

Barrier Reef Floating Resort bukan sekadar kapal biasa, melainkan hotel apung mewah pertama di dunia. Dibuka untuk umum pada akhir 1980-an, gedung tujuh lantai ini terdiri dari 200 kamar, kelab malam, helipad dan lapangan tenis.

Resor apung ini awalnya dibangun dengan tujuan menawarkan pemandangan cantik kawasan Great Barrier Reef, sekitar 64 kilometer di lepas pantai timur laut Australia. Namun kini tinggal kenangan.

Bangkai kapal berbobot mati 12.000 ton ini, terbengkalai di Korea Utara, 7.000 kilometer jauhnya dari Australia. Meski nasibnya cukup naas, Great Barrier Reef Floating Resort ini sempat menjadi simbol hubungan diplomatik Korea Utara dengan Selatan. Namun, Kim Jong-un memerintahkan tahun 2019 lalu agar hotel apungnya dihancurkan karena sudah “kumuh”.

Di tengah ketegangan yang semakin meningkat akibat program nuklir dan krisis kesehatan global karena Pandemi, hotel apung menghadapi masa depan yang tak pasti. Bagaimana ceritanya kapal mewah ini berpindah tempat. Inilah ceritanya.

Barrier Reef Floating Resort resmi dibuka pada 1988, tapi sering diterjang cuaca buruk dan angin topan. Jumlah pengunjung terus merosot hingga akhirnya dijual ke Vietnam pada akhir 1989. Setelah dipindahkan ke Saigon River di Ho Chi Minh City, nama Barrier Reef Floating Resort berubah jadi Saigon Floating Hotel. Hotel ini sempat menjadi objek wisata dan penginapan favorit di sana, tapi akhirnya dijual lagi ke pihak lain gara-gara masalah keuangan.

Pada pergantian dekade, hotel apung mewah ini direlokasi ke Pelabuhan Mount Kumgang yang berjarak 209 kilometer dari timur Pyongyang. Proses pemindahannya terjadi selama rekonsiliasi antara Korea Utara dan Selatan.

“Hotel apungnya dipindah ke Korea Utara ketika hubungan kedua negara sedang mencair,” ujar petugas Townsville Maritime Museum bernama Robert De Jong, dikutip dari ABC. “Hotelnya diyakini bisa menarik wisatawan ke Korea Utara.”

Hotel apung ini menjadi gedung ikonik di kawasan wisata Gunung Kumgang, yang dibangun oleh sejumlah perusahaan Korea Selatan pada 1990-an. Salah satunya Hyundai Asan, yang mengelola area tersebut.

Wisatawan Korea Selatan sering menginap di hotel yang kini bernama Hotel Haegumgang. Ini berlangsung hingga 2008, ketika tentara Korea Utara menembak wisatawan Korsel yang memasuki lokasi militer.

Sejak itu, Gunung Kumgang ditutup untuk wisatawan dan hubungan kedua negara kembali memanas.

Mengutip uraian dari VICE News, juru bicara Hyundai Asan Kim Ha-young mengatakan pembahasan tentang masa depan pariwisata Gunung Kumgang yang sempat terjadi, sudah tak ada kelanjutannya sejak pandemi COVID-19 melanda dunia. “Tak banyak yang terjadi di antara kedua belah pihak sejak itu,” tuturnya.

Kim menjelaskan sejak insiden penembakan pada 2008, sebagian besar pengunjung hotel apung berasal dari Tiongkok. Kapalnya sudah ditutup total ketika dia mengunjungi Gunung Kumgang awal 2019 lalu.

“Kami memeriksa hotel secara langsung saat berkunjung ke Korut tahun lalu. Fasilitasnya tidak digunakan sama sekali… Korea Utara menghentikan operasinya karena hotel apung sudah usang.”

“Entah hotelnya masih beroperasi atau tidak di tengah pandemi,” imbuhnya. “Kami sendiri tidak tahu pasti karena sekarang kami tidak bisa pergi ke Korut.”

Bisa dibilang, riwayat Barrier Reef Floating Resort sudah tamat. Tak jelas bagaimana nasibnya. Warga Korea Selatan tidak diizinkan berhubungan dengan tetangganya di Utara. Pemerintah Korsel juga kesulitan berinteraksi dengan mereka.

Mungkinkah hotel apungnya telah luluh lantak? Apalagi mengingat sudah satu tahun perintahnya dikeluarkan.“Kayaknya tidak,” tukas jubir Kim. “Sejauh pengetahuan kami, bangunannya masih berdiri.” Ya, masih berdiri, namun entah apa yang menghuninya.  Inilah rencana aneh membangun hotel bernilai ratusan miliar tapi berakhir jadi rumah hantu. (Cepi S. Husada)

Foto: dailymail.co.uk

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article

Dibanderol Rp30 miliar per unit, rumah mewah di NavaPark BSD laris terjual

SIAPA bilang rumah seharga puluhan miliar hanya bisa dipasarkan di kawasan elit Jakarta seperti Pondok Indah, Menteng atau Kemang? Nyatanya, rumah seharga...

Lover’s Deep tawarkan liburan mewah di laut Karibia

Andaikan anda orang terkaya di dunia seperti Waren Buffet, Bill Gates atau Jack Ma, maukah membelanjakan uang sebesar Rp 4 miliar hanya...

Mengintip mall terbesar, termegah dan teramai di dunia

Air terjun ilusi di Dubai Mall. sumber foto: citytourindubai.com

Judi dan hotel Empathy Suite yang mewah artistik

Archie Karas adalah pemain judi paling top  dalam sejarah perjudian dunia dan menjadi salah satu cerita judi yang paling menakjubkan di muka...

Koichi Takada, arsitek yang sukses menaturalisasi perkotaan

CROWN GROUP bulan November ini rencananya akan meluncurkan proyek perdananya di Melbourne, Australia. Proyek bernama Artis dengan arsitek Koichi Takada di kawasan...